Mahasiswa Alma Ata Lolos Kerja BUMN Sebelum Lulus, Kini Jadi SOC Analyst di PGNCom  ~ Jurusan Sistem Informasi Universitas Alma Ata. Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Alma Ata, Ibnu Ajis, berhasil menembus industri keamanan siber nasional bahkan sebelum resmi lulus kuliah. Mahasiswa semester akhir yang baru menyelesaikan skripsi tersebut kini bekerja sebagai SOC L1 Analyst di PGNCom dengan penempatan di Pertamina Patra Niaga Jakarta Selatan sejak awal Mei 2026. Keberhasilan itu diraih setelah dirinya lolos serangkaian tahapan seleksi perusahaan BUMN bidang teknologi dan keamanan siber pada April 2026. Di tengah proses revisi skripsi dan administrasi yudisium, Ibnu justru mulai menjalani pekerjaan profesional di bidang cyber security yang selama ini menjadi fokus studinya.

Ibnu mengatakan proses rekrutmen dimulai melalui portal talentics.id dan berlangsung melalui beberapa tahapan seleksi, mulai dari administrasi hingga wawancara teknis bersama tim Security Operation Center (SOC) PGN.

“Saya mulai daftar April 2026 lewat portal rekrutmen talentics.id. Tahapannya seleksi administrasi, interview HR, interview user atau teknis sama tim SOC PGN, tes online psikotest, lalu terakhir tahap MCU dan dinyatakan lolos lalu mulai masuk awal Mei 2026,” ujar Ibnu kepada wartawan, Senin (18/6/2026).

Keberhasilan tersebut menjadi gambaran meningkatnya kebutuhan tenaga keamanan siber di Indonesia seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor industri nasional.

Kebutuhan Talenta Cyber Security Dunia Terus Meningkat

Pakar Cyber Security sekaligus Dosen Sistem Informasi Universitas Alma Ata, TRI ROCHMADI, S.Kom., M.Kom., mengatakan kebutuhan tenaga keamanan siber saat ini terus meningkat secara global dan telah menjadi kebutuhan strategis dunia.

Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum yang menunjukkan bahwa keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis teknologi informasi, melainkan bagian penting dalam ketahanan global.

“Laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 menunjukkan bahwa kebutuhan cybersecurity dunia semakin meningkat dan kini menjadi kebutuhan strategis global,” ujar TRI ROCHMADI.

Ia menjelaskan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong meningkatnya ancaman siber dunia pada 2026.

“Sebanyak 94 persen responden dalam laporan tersebut menyebut AI menjadi pendorong utama perubahan ancaman siber global,” jelasnya.

Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan berbagai kompetensi baru di bidang keamanan siber seperti AI security governance, deteksi deepfake, pengamanan data GenAI, hingga pengawasan autonomous system.

Selain itu, kebutuhan perlindungan infrastruktur kritis juga semakin tinggi akibat meningkatnya risiko konflik geopolitik dan perang hybrid digital.

“Kebutuhan keamanan siber sekarang bukan hanya melindungi komputer perusahaan, tetapi juga perlindungan pembangkit listrik, transportasi, telekomunikasi nasional, cloud hyperscale, hingga jaringan kabel bawah laut dan satelit,” katanya.

TRI ROCHMADI menambahkan fokus dunia kini mulai bergeser dari sekadar mencegah serangan menjadi membangun ketahanan siber atau cyber resilience.

“Kebutuhan dunia saat ini meliputi incident response, disaster recovery, business continuity, simulasi serangan siber, hingga cyber resilience supply chain,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tingginya kebutuhan sumber daya manusia di bidang keamanan siber yang masih menjadi tantangan besar di berbagai negara berkembang.

“Dunia masih kekurangan talenta cybersecurity seperti SOC analyst, AI security specialist, threat intelligence analyst, cloud security engineer, digital forensics expert, dan cybersecurity governance expert,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi mahasiswa teknologi informasi yang memiliki kemampuan praktis dan pengalaman lapangan di bidang keamanan siber.

Baca artikel: 7+ Alasan Jurusan Sistem Informasi Banyak Dipilih Gen Z di Era Digital

Bertugas Monitoring Ancaman Siber di Lingkungan Pertamina Patra Niaga

Saat ini, Ibnu bekerja sebagai SOC L1 Analyst di PGNCom dengan penempatan kerja di Pertamina Patra Niaga Jakarta Selatan. Dalam posisi tersebut, ia memiliki tanggung jawab melakukan pemantauan keamanan sistem digital perusahaan secara berkelanjutan.

“Saya kerja sebagai SOC L1 Analyst di PGNCom, ditempatkan di Pertamina Patra Niaga Jakarta Selatan. Tugas utama saya monitoring alert keamanan 24/7 lewat SIEM menggunakan IBM QRadar, analisis log awal, triase insiden, dan eskalasi ke SOC L2 kalau ada indikasi anomali serius,” katanya.

Dalam pekerjaannya, Ibnu bertugas mendeteksi berbagai potensi ancaman siber seperti brute force, malware, hingga akses ilegal ke sistem perusahaan.

Menurut Ibnu, posisi SOC L1 Analyst dipilih karena sesuai dengan minat dan kompetensi yang telah ia pelajari selama kuliah di Program Studi Sistem Informasi Universitas Alma Ata, khususnya pada bidang cyber security.

“Yang jadi alasan yaitu di posisinya sebagai SOC L1, yang mana sangat relevan dengan fokus saya saat kuliah dengan fokus cyber security. Lingkungan kerja di SOC itu tempat terbaik buat belajar cybersecurity secara real, bukan cuma teori,” jelasnya.

Sempat Berpacu dengan Revisi Skripsi dan Kontrak Kerja

Di balik keberhasilannya diterima bekerja di perusahaan BUMN sebelum wisuda, Ibnu mengaku menghadapi tantangan besar dalam menyelesaikan kewajiban akademik dan persiapan kerja secara bersamaan.

Ia menjelaskan proses penerimaan kerja berlangsung tidak lama setelah dirinya menjalani sidang skripsi. Saat itu, revisi skripsi dan pengesahan administrasi akademik masih berjalan.

“Tantangan terbesar saat prosesnya yaitu saat pengambilan keputusan tanda tangan kontrak. Waktu itu saya baru selesai sidang skripsi dan seminggu setelah sidang dikabarkan mengikuti interview HR dan user,” ungkapnya.

Perusahaan meminta dirinya mulai bekerja pada awal Mei 2026. Sementara itu, proses revisi skripsi dan kebutuhan administrasi yudisium belum sepenuhnya selesai.

“Saat itulah saya harus memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan revisi dan yudisium sebelum bulan Mei. Alhamdulillah revisi terkejar sebelum Mei dan untuk kebutuhan tanda tangan bisa dibantu teman saya yang masih di Jogja,” katanya.

Ibnu mengaku harus menjaga komunikasi intensif dengan dosen dan rekan kuliahnya di Yogyakarta agar seluruh proses akademik tetap berjalan lancar meski dirinya sudah mulai bekerja di Jakarta.

Praktikum dan Pengalaman Magang Jadi Bekal Utama

Ibnu menilai pengalaman praktikum, proyek kuliah, dan magang memiliki kontribusi besar terhadap kemampuan yang kini digunakan dalam dunia kerja profesional.

Selama kuliah di Program Studi Sistem Informasi Universitas Alma Ata, ia mempelajari berbagai mata kuliah yang relevan dengan bidang pekerjaannya, seperti Jaringan Komputer, Basis Data, dan Keamanan Siber.

“Di SOC L1 saya tiap hari baca log, jadi sedikit mengerti struktur IP, port, protokol,” katanya.

Selain pembelajaran di kelas, pengalaman magang sebagai Cyber Security Analyst di X-Code juga memberikan pengalaman praktik yang membantu dirinya memahami kebutuhan industri keamanan siber.

“Pas kerja, 70 persen skill yang kepakai itu hasil dari praktikum dan project, bukan hanya materi kuliah,” jelasnya.

Menurutnya, proses interview teknis di PGNCom banyak membahas konsep jaringan komputer, sistem operasi, analisis log, dan logika dasar keamanan sistem yang sebelumnya telah dipelajari selama kuliah.

“Waktu interview, saya bisa cerita project dan praktikum yang sudah pernah dilakukan sebagai bukti pengalaman,” tambahnya.

Dukungan Keluarga dan Komunitas Jadi Motivasi

Selain kemampuan teknis, Ibnu menyebut dukungan keluarga terutama sang ibu menjadi faktor penting dalam perjalanan kariernya.

“Yang paling berpengaruh yaitu keluarga saya terutama ibu saya yang terus selalu tiap malam mendoakan saya sebagai anaknya untuk menggapai apa yang diinginkan,” ujarnya.

Ia juga mendapatkan dukungan dari teman dan komunitas yang selama ini membantunya belajar dan berkembang di bidang cyber security.

Keberhasilannya diterima bekerja di perusahaan BUMN sebelum resmi lulus kuliah membuat dirinya merasa bangga sekaligus tidak menyangka.

“Campur aduk. Lega, bangga, dan nggak nyangka. Soalnya ini kerjaan pertama di BUMN, dan langsung di bidang yang saya suka. Rasanya semua begadang buat skripsi dan belajar cyber itu terbayar,” katanya.

Alma Ata Perkuat Kompetensi Mahasiswa Bidang Teknologi dan Cyber Security

Melalui pengalamannya, Ibnu mengajak mahasiswa lain untuk mulai membangun kemampuan praktis sejak awal kuliah dan tidak hanya berfokus pada nilai akademik.

“Jangan tunggu lulus baru belajar skill kerja. Mulai dari semester awal tentukan passion, ikut komunitas yang relevan, buat lab sendiri buat testing, ambil project, atau sertifikasi gratis,” pesannya.

Ia menilai kemampuan praktis dan pengalaman lapangan menjadi faktor pembeda saat menghadapi proses seleksi kerja di industri teknologi.

“IPK penting, tapi skill dan pengalaman praktis yang bikin beda pas interview. Kalau aku bisa lolos SOC di BUMN, kalian juga pasti bisa,” tutupnya.

Program Studi Sistem Informasi Universitas Alma Ata terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak talenta unggul di bidang teknologi informasi dan digital melalui kurikulum yang menyesuaikan kebutuhan industri. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori di ruang kelas, tetapi juga pengalaman praktis melalui proyek, praktikum, dan program magang industri.

Universitas Alma Ata juga menyediakan fasilitas pendukung pembelajaran seperti laboratorium komputer, jaringan, dan pengembangan kompetensi digital untuk menunjang kemampuan mahasiswa di bidang teknologi dan keamanan siber.

Selain itu, Program Studi Sistem Informasi Universitas Alma Ata telah mengantongi akreditasi internasional ASIIN sebagai bentuk pengakuan mutu pendidikan berstandar internasional. Dengan kombinasi pembelajaran teori dan praktik, program studi tersebut menjadi salah satu pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin berkarier di bidang cyber security, data analyst, programming, maupun bisnis digital.